Berita

Sawit RI Diganjal Masuk Eropa, Bagaimana Nasib Industri Nasional?

IT Team | Senin, 17 April 2017 - 11:18:42 WIB | dibaca: 330 pembaca

Jakarta, Para eksportir kelapa sawit Indonesia tengah menghadapi masalah setelah keluarnya resolusi dari Parlemen Uni Eropa yang menyebutkan produk kelapa sawit Indonesia mengakibatkan deforestasi, pelanggaran HAM, korupsi, pekerja anak, dan penghilangan hak masyarakat adat lewat resolusi yang dikeluarkan Parlemen Uni Eropa (UE).


Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono memandang, resolusi tersebut sebenarnya tidak memiliki dampak secara jangka pendek bagi industri kelapa sawit di Indonesia. Namun jika dilihat secara jangka panjang cukup berpengaruh sebab hal itu sama saja memberikan cap buruk bagi produk kelapa sawit Indonesia di mata dunia.

"Jadi secara langsung dan jangka pendek belum ada karena ini sampai 2020. Namun ini nuansanya politis ada perang kepentingan dagang, proteksionisme. Karena tindakan diskriminasi menurut saya bisa berdampak jangka panjang. Terjadi stigmatisasi bahwa kelapa sawit seolah-olah tidak baik," tuturnya saat dihubungi detikFinance, Minggu (16/4/2017).

Jika dilihat dari jumlah, Joko juga memandang ekspor kelapa sawit Indonesia ke Eropa juga tidak terlalu besar. Menurut catatannya, rata-rata ekspor sawit Indonesia ke Eropa sebesar 3,5 juta ton per tahun dari total rata-rata ekspor ke seluruh dunia sebesar 26 juta ton.

"Eropanya besar, tapi negaranya kan banyak, itu total. Negara impor yang dalam jumlay besar itu seperti Belanda, Italia, Jerman dan Spanyol. Sisanya kecil-kecil," imbuhnya.

Joko juga mengatakan, negara yang paling besar menyerap produk kelapa sawit Indonesia adalah India dengan rata-rata per tahunnya sebesar 5,7 juta ton. Kemudian China 3 juta ton lebih dan Pakistan sekitar 2 juta juta ton.

Kendati tidak memiliki dampak yang begitu besar, Joko meminta pemerintah tetap memeprjuangkan nasib kelapa sawit Indonesia di Eropa. Sebab hal itu menyangkut citra dari salah satu komoditas unggulan RI tersebut.

"Ya cuma kan kalau bisa Eropa jadi friendly bagus juga kan. Kita ingin ini diperjuangkan," pungkasnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : DETIK





Komentar Via Website : 1
AwalKembali 1 LanjutAkhir


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)